Terjemah Kitab Al Hikam 87-89

HIKMAH 89

PERMINTAAN orang ARIF BILLAH

Hikam 87-89


٭مَطْلَبُ العارفينَ مِنَ اللهِ تعالى الصِدق ُ في العُبُوديةِ والقِيامُ بحُقوُقِ الرُّبُوبيَّةِ ٭

"Permintaan orang yang sudah makrifat kepada Alloh, hanya semoga dapat bersungguh-sungguh dalam menghamba dan tetap dalam menunaikan hak-hak kewajiban terhadap Tuhan".

Yang dinamakan Sidqul ‘Ubudiyyah yaitu: menetapi tatakramanya menghamba pada Alloh (ubudiyyah), seperti mencukupi hak-haknya Alloh dalam beribadah, mensyukuri pemberian Alloh , sabar menghadapi bala’, menyerahkan semua urusannya pada Alloh, selalu Muroqobah (meniti taqdir Alloh, yang terjadi atas dirinya dan lainnya), memperlihatkan fakirnya kepada Alloh dan selalu mengharap rahmatnya Alloh dan lain-lain.

Hikmah 89 ini menjelaskan seorang arif itu tidak mempunyai permintaan kepada Alloh, kecuali dua perkara :

1. SHIDQUL ‘UBUDYYAH,
2. AL-QIYAMU BIHUQUQIR-RUBUBYYAH.

Tanpa melihat kepentingan dirinya dan nafsunya.
Berbeda dengan orang yang belum ‘Arif billah, yang belum bisa meninggalkan kepentingan diri dan nafsunya.

Syeikh  Abu Madyan berkata:
"Jauh berbeda antara orang yang semangat keinginannya hanya bidadari dan gedung [surga], dengan orang yang keinginannya selalu bertemu kepada Tuhan yang menciptakan bidadari dan yang mempunyai gedung [surga]. Sungguh-sungguh dalam sifat kehambaan, ialah: Berakhlak dan beradab sebagai seorang yang patuh dan taat kepada tuannya".

HIKMAH 88
ROJA’ (HARAPAN) DAN TAMANNI (KHAYALAN)


٭الرَّجاءُ ماَ قاَرَنهُ عملٌ وِالاَّ فهُوَ اُمْنِيَّةٌ ٭

"Pengharapan (Roja’) yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan [khayalan] belaka".

Yang dinamakan roja’ yaitu pengharapan yang dibarengi dengan amal. apabila tidak dibarengi amal tapi malah malas beramal dan masih berani melakukan maksiat dan dosa pengharapan itu disebut umniyyah atau lamunan, dan dia tertipu dengan belas kasih Alloh.

Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
"Seorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap-siap untuk memghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan".

Syeikh Ma'ruf al-Karkhi berkata:
"Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafa'at tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharap rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti bodoh".

Al-Hasan rodhiyallohu 'anhu berkata:
"Sesungguhnya ada beberapa orang oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia [mati], sedang belum ada bagi mereka kebaikan sama sekali. Sebab mereka berkata: Kami baik sangka terhadap Alloh.

Padahal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Alloh, tentu baik pula perbuatannya. Al-Hasan lalu membacakan ayat Qur'an:

وَذٰ لِكمُ ْ ظَنُّكمُ ُالَّذىِ ظَنـَنـْتُمْ بِرَبِّكُم اَرْداكمُ ْ فَاَصبَحْتـُمْ من الخاَسِرِينَ

“Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi".

Al-Hasan berkata: Wahai hamba Alloh berhati-hatilah kamu dari angan-angan [khayalan] yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan lalai karenanya. Demi Alloh, tidak pernah Alloh memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karena angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akhirat.

HIKMAH 87
TANDA-TANDA ORANG ‘ARIF


٭ماَالعاَرِفُ مَن اذاَ اَشارَ وجدَ الحَق َّ اقرَبَ اليهِ مِنْ اِشارَتِهِ ، بلِ العارفُ مَن لاَ اِشارَة َ لهُ لِفَناءـهِ في وُجُوده وانطِواَءـهِ في شهوُدهِ ٭

"Tidak disebut orang arif  itu, orang yang bila ia memberi isyaroh sesuatu ia merasa bahwa Alloh lebih dekat dari isyaroh-Nya, tetapi orang arif itu ialah yang merasa tidak mempunyai isyaroh, karena merasa lenyap diri dalam wujud Alloh, dan diliputi oleh pandangan [syuhud] kepada Alloh".

 Hikmah yang lalu menerangkan keadaan orang awam yang dihijab oleh cahaya dunia dan syaitan sehingga mereka tidak jadi untuk berbuat taat kepada Alloh.

Hikmah 87 ini pula menerangkan keadaan orang yang berjalan pada jalan Alloh dan sudah mengalami hakikat-hakikat,tetapi cahaya hakikat masih menjadi hijab antara dirinya dengan Alloh, Pengalaman tentang hakikat menurut istilah tasawuf disebut isyaroh tauhid. Isyarat-isyarat tersebut apabila diterima oleh hati maka hati akan mendapat pengertian tentang Alloh. Isyarat-isyarat demikian membuatnya merasa dekat dengan Alloh.

Orang yang merasa dekat dengan Alloh, tetapi masih melihat kepada isyarat-isyarat tersebut masih belum mencapai makam arifbillah.

Orang arifbillah sudah melepas isyarat-isyarat dan sampai kepada Alloh yang tidak boleh diisyaratkan lagi. Maqom ini dinamakan fana-fillah atau lebur kewujudan diri dalam Wujud Mutlak dan penglihatan mata hati tertumpu kepada Alloh semata-mata, yaitu dalam keadaan:
Tiada sesuatu sebanding dengan-Nya.
Tidak ada nama yang mampu menceritakan tentang Dzat-Nya. Tidak ada sifat yang mampu menggambarka n tentang Dzat -Nya. Tidak ada isyarat yang mampu memperkenalkan Dzat -Nya. Itulah Alloh  yang tidak ada sesuatu apa pun menyerupai-Nya.

Maha Suci Alloh dari apa yang disifatkan.
Yakni, siapa yang masih mempunyai pandangan kepada sesuatu selain Alloh, maka belum sempurna sebagai seorang [yang mengenal kepada Alloh]. Tetapi seorang arif yang sesungguhnya, ialah yang merasakan kepalsuan sesuatu selain Alloh, sehingga pandangannya tiada lain kecuali kepada Alloh.

Seorang ‘arif ditanya tentang apakah fana’ itu? Beliau menjawab, “Fana’ ialah Muncul/terlihatnya sifat keagungan dan kemegahan Alloh pada hamba-Nya, sehingga hamba tersebut jadi lupa akan dunia, lupa akhirat, lupa derajat, lupa makom, hal,dzikir. lupa akalnya, lupa dirinya sendiri, lupa fana’nya sebab tenggelam dalam takdhim kepada Alloh ta’ala.”

0 Response to "Terjemah Kitab Al Hikam 87-89"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel